Posted by: OrangLaut | October 8, 2012

SYAIR BADAI DAN PUTRA OMBAK: Hilangnya Tradisi Maritim Nusantara

SYAIR BADAI DAN PUTRA OMBAK: Hilangnya Tradisi Maritim Nusantara

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali

Aku tak tahu di mana aku akan mati

Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang

Ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam;

Bila aku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar

Ke air dalam, ikan hiu berebutan datang;

Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?” (Multatuli).

CITA RASA YANG MELAYARKAN RIBUAN KAPAL

“Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah-rempah, berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki. Karena semuanya itu tidak muncul begitu saja, saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya”. Begitulah kutipan dari pesan singkat Christoper Colombus dalam surat perjalan ketiga yang ditulis di Jamaika pada 7 Juli 1503 M. Christoper Colombus menjadi salah satu pembawa pesan paling penting dalam sejarah dunia terhitung sejak zaman es berahir. Tepat setelah pelayarannya mengunjungi dunia Timur (Asia Tenggara), para duta besar dan dewan kehormatan dari berbagai negara persekutuan eropa berkumpul dengan rasa penasaran yang begitu bergejolak. Di hadapan mereka Christoper Colombus berdiri tegak dengan senyum sumringah tebar pesona. Malam itu dalam ruang perjamuan Salo del Tinell yang megah di Barri Gotic, Barcelona, dengan resmi Colombus mengumumkan kabar mengenai penemuan dunia baru. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa kejadian ini menjadi titik transisi antara abad pertengahan dengan abad modern.

Colombus membawa perubahan yang sangat berarti bagi peredaban umat manusia, terlebih dalam hal cita rasa. Dunia modern saat ini hampir seluruhnya mengenal dan menggunakan rempah-rempah, baik sebagai bumbu masakan, campuran minuman (alkohol), maupun dalam bidang medis. Kita bisa membayangkan betapa hambarnya kehidupan masyarakat eropa pada abad pertengahan yang kala itu belum bersentuhan dengan rempah-rempah. Roti terasa tawar, minuman terasa hambar, bahkan pizza yang tersohor seantero dunia pun rasanya mungkin hanya seperti adonan antah berantah yang bisa membuat anda muntah-muntah. Demi cita rasa dan kepuasan duniawi, pertaruhan nyawa dalam mengarungi ganasnya tujuh samudera pun dilakoni Colombus menuju belahan dunia timur yang masih diselimuti misteri.

Bila anda berkunjung ke ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), ada ratusan catatan sejarah yang menuliskan tentang upaya-upaya bangsa eropa dalam pencarian dunia timur (Nusantara) yang kaya dan eksotis. Christoper Colombus, da Gama, dan Magellan adalah pionir para pencari rempah-rempah sebelum dimulainya zaman penjajahan. Intrik, politik dan persaingan yang berujung pada pertumpahan darah jelas tak mungkin bisa dihindari diatara mereka para pencari aroma surgawi. Perseteruan panjang antara dua kerajaan besar yang terkenal dengan peradaban dan ilmu pelayarannya, Spayol dan Portugis menjadi pemain utama dalam perebutan rempah-rempah di dunia timur.

Menurut beberapa dokumen kuno, setelah kesuksesan Spayol dan Portugis, perdagangan rempah beralih ke negara-negara Protestan. Tepat di akhir abad ke-16, pedagang Belanda dan Inggris muncul untuk pertama kalinya di perairan Asia Tenggra. Hal ini jelas diakibatkan oleh hasrat untuk mendapatkan aroma surgawi yang multi fungsi, yang bahkan konon katanya bisa memabukkan para bidadari. Ternyata dua pendatang baru dari Eropa ini lebih terorganisir dan tak kenal kompromi dibanding dengan pedagang-pedagang manapun yang pernah singgah di perairan Nusantara (Spayol, Portugis, India, Cina dan Arab). Bahkan mereka tega bertempur antara sebangsanya sendiri dan berniat melawan semua pesaing serta penyelundup asing demi memperoleh rempah-rempah untuk diangkut menuju Herengrach di Amsterdam atau Pepper Lane di London.

Aroma surgawi benar-benar menghipnotis mereka para pemuja kenikmatan dunia. Segala cara dihalalkan untuk mendapatkannya, bahkan menumpahkan darah sebangsa sendiri yang sama-sama bermata biru pun dilakoni, apalagi dengan kaum pribumi yang berkulit coklat, tanpa ampun dijajah dan diperbudak hingga tujuh turunan. Secara tidak langsung, sadar atau tidak sadar, aroma surgawi telah melatarbelakangi munculnya penjajahan di muka bumi. Percaya atau tidak, Cita rasa rempah-rempah telah melayarkan ribuan kapal menuju Ternate dan Tidore. Rempah-rempah bisa jadi adalah suatu musibah, tapi mungkin juga menjadi sebuah hikmah bagi bangsa ini, untuk kita renungkan, untuk diingat hingga seratus generasi mendatang “lebih baik di bom atom dari pada tidak merdeka 100 persen”.

Lihatlah pulau-pulau yang tak terhitung

Terhampar di laut Timur

Lihatlah Ternate dan Tidore,

Dari puncaknya yang berkobar, meletup gelombang api

Kau akan melihat pepohonan cengkih yang tajam,

Dibeli dengan darah bangsa Portugis

Camos, Lusiad, 1572 M

AWAL DARI SEBUAH AKHIR

Pada rak buku di gedung arsip, tersusun rapi beberapa buku kuno yang antara lain berjudul ‘Proper New Books of Cookery’ (1576) dan buku ‘Diego Granado Libro de arte de cocinar’ (1599) yang memuat selusin resep saus klasik berempah khas abad pertengahan. Eropa pada masa itu semakin kecanduan dengan rempah-rempah, alhasil pencarian rempah pun semakin menggila. Ditengah semaraknya demam rempah-rempah, muncul dua perusahaan dagang dengan pemodal orang-orang kaya dan para bangsawan eropa. EIC (East India Company) milik Inggris dan VOC (Verenidge Oostindische Compagni) milik Belanda. Azas ekonomi mendesak VOC untuk bertindak cepat. Alhasil setelah mengusir bangsa Portugis pada 1605, VOC pun bersiap untuk membuat setiap rempah-rempah (cengkih, lada dan sebagainya) yang ada di bumi ini menjadi milik Belanda. Jan Pieterszoon Coen sebagai gubernur jenderal yang pertama pada masa awal pendudukan bertindak dengan sangat brutal. Rencana-rencana monopoli rempah diatur dengan sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada keburukan menajemennya. Pulau-pulau penghasil rempah seperti Maluku dikuras habis-habisan disertai dengan peraturan ketat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rakyat Maluku berada di bawah peraturan yang ketatnya menyamai rezim gula dan kapas di Karibia. Ladang-ladang cengkeh dan pala ilegal dibakar habis dan pelakunya dihukum mati. Untuk mencegah penyelundupan dan pemberontakan. Belanda memfokuskan produksi cengkeh di Ambon dan beberapa pulau kecil disekitar Maluku. Para sultan Ternate dan Tidore dijadikan boneka lewat sogokan uang dan hadiah-hadaih dari eropa untuk mempermudah urusan rempah-rempah.

Dalam waktu singkat produksi rempah meningkat tajam. Gudang-gudang penyimpanan dibangun dimana-mana sekaligus benteng pelindungnya. Batavia sebagai persinggahan pertama VOC dan titik tengah penghubung antara Maluku dengan selat Malaka, akhirnya dijadikan sebagai pusat pemerintahan sekaligus gudang penyimpanan utama sebelum semua rempah diangkut ke Eropa lewat selat Malaka. Masa kejayaan VOC pun dimulai. Keserakahan akhirnya mengubah perdaganagn menjadi penjajahan. Ini lah awal penjajahan dari sebuah usaha dagang bernama VOC terhadap suatu gugusan kepulauan dengan garis pantai nomor dua terpanjang di dunia bernama Nusantara yang kaya akan sumber alamnya.

Gugusan kepulauan Nusantara yang lebih luas laut dari pada daratan, yang terhubung dan dipersatukan oleh lautan antara satu pulau dengan pulau lainnya, dimonopoli habis-habisan oleh VOC. VOC Jiwa dagang yang berlebihan atau lebih tepatnya serakah, melihat potensi nusanatara yang demikian besar tersebut dengan segera memanfaatkan peluang dan menghalalkan segala cara untuk menguasai hasil alam nusantara. Salah satu langkah yang diambil adalah monopoli lautan oleh VOC, yang secara revolusioner pengaruh dan kekuasaanya ditancapkan disetiap ujung perairan nusantara. Pendekatan kepada para raja dan sultan yang sejak awal telah bisa dikendalikan, kemudian lebih dikendalikan lagi dengan tipu muslihat dalam bentuk berupa perjanjian-perjanjian yang benar-benar merugikan. Kali ini yang jadi sasaran dari perjanjian bukan lagi rempah, tanah, atau tenaga kerja, namun sebuah sumber yang lebih besar dan menguasai hajat hidup orang banyak, yakni lautan.

Laut sebagai media dan sarana transfortasi dikuasai VOC untuk mempermudah dan mempermurah biaya pengiriman rempah ke eropa. Laut sebagai jalur lalu lintas utama pada saat itu di monopoli VOC untuk menekan persaingan dan penguasaan dengan usaha dagang dan para pesaing lainnya. Dan yang terpenting lagi dimana fungsi laut sebaagai pemersatu dan penghubung pulau-pulau di Nusantara dikuasai VOC untuk memecah, dan memutuskan hubungan dan komunikasi antar pualu-pulau di Nuantara. Dengan penguasaan laut tersebut, VOC 100 persen akan mampu mengendalikan upaya penghisapannya pada pualu-pulau di Nusantara yang kaya akan sumber daya alam.

Momentum pertama upaya VOC dalam penguasaan dan monopoli lautan dimulai pada 13 Februari 1755, yakni perjanjian Giyanti antara pihak kerjaan mataram dengan VOC. Jelas disebutkan pada pasal 6 bahwa Sri Sultan menyerahkan pulau Madura dan daerah-daerah pesisir jawa  kepada VOC. Sebaliknya VOC kan memberikan ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 Real tiap tahunnya.VOC memang terkenal dengan strategi ekonominya yang brilian. Apalah artinya 10.000 real bila dibandingkan keuntungan yang di raup oleh VOC atas jasa pelayaran dan transportasi dari laut Jawa. Belum lagi dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh penyerahan hak lautan dan wilayah pesisir tersebut untuk nanti kedepannya, benar-benar sangat merugikan.

Penguasaan wilayah pesisir beserta lautnya rupa-rupanya belum cukup memuaskan VOC dengan kata lain belum memonopoli 100 persen jiwa dan urat nadi Nusantara. Alhasil pada tanggal 30 Oktober 1787 VOC mengeluarkan sebuah resolusi (surat perintah) yang berisi pelarangan pembuatan kapal berbobot di atas 1200 tonase. Surat perintah ini berlaku diseluruh wilayah jajahan VOC mulai dari Sabang hingga Merauke. Melarang pembuatan kapal dengan bobot di atas 1200 tonase sama saja melarang masyarakat Nusantara menjadi pelaut sejati. Sebab kapal dengan bobot dibawah 1200 tonase hanyalah perahu kecil dengan panjang berkisar 12 s/d 5 meter, yang berarti hanya kapal nelayan yang mampu menangkap ikan disekitar garis pantai. Sedangkan kapal dengan bobot diatas 1200 tonase adalah kapal besar dengan ukuran berkisar 25 s/d 50 meter, dengan kemampuan jelajah antar pulau dan antar samudera yang bisa berlayar bermil-mil dari garis pantai. Dengan dikeluarkannya resolusi 30 oktober 1787, VOC secara tegas memutus rantai kemaritiman masyarakat Nusantara yang sejatinya adalah para pelaut penjelajah samudera.

VOC ternyata belum cukup puas hanya sampai pada pelarangan pembuatan kapal dengan ukuran besar,  namun upaya VOC dalam memusnahkan tradisi maritim masyarakat Nusantara terus berlanjut hingga ke taraf karakter dan pemikiran. Masyarakt pesisir dan para pelaut yang terbiasa hidup dengan ombak dan lautan kemudian digiring dan disulap menjadi masyarakat perkebunan. Hutan Sumetara dan Kalimantan yang masih luas disulap menjadi ladang perkebunan rempah-rempah (cengkeh, pala, kopi dan lain-lain) Transmigrasi pun kemudian lahir dari momentum ini. Para pelaut bugis, ahli-ahli pembuat kapal di Lasem dan Tuban dengan berat hati alih propesi menjadi masyarakat agraris yang berwawasan daratan. Hikayat-hikayat pelaut lama-lama hilang dan tergantikan dengan dongeng-dongeng daratan.

Usaha terakhir yang dilakukan VOC untuk memutus rantai kemaritiman masayarakat Nusantara adalah dalam bentuk penguasaan dan monopoli perkebunan pohon jati. Dimana pohon jati yang terkenal dengan kayunya berkualitas tingkat tinggi merupakan bahan utuma yang biasa dipergunakan dalam pembuatan kapal, khususnya untuk bagian lunas dan gading kapal. Perkebuanan jati di Lasem dan Tuban yang sejak masa Sriwijaya dan Majapahit merupakan pemasok utama bahan baku kayu untuk galangan kapal Lasem dan Tuban kemudian sepenuhnya dikuasai VOC demi terwujdunya penguasa laut tunggal. Adapun kayu-kayu jati hasil perkebunan VOC diberbagai dearah di pulau Jawa, semuanya dikirim ke galangan kapal utama VOC di pulau Onrust, Sunda Kelapa, Banten, dan Makasar untuk kepentingan perbaikan dan pembuatan kapal milik VOC.

VOC sadar betul akan pentingnya penguasaan wilayah lautan. Hal ini diperkuat dengan sebuah teori dari Sir Walter Raleigh yang menyatakan “barang siapa menguasai lautan maka akan menguasai perdagangan, kekayaan dunia, dan akhirnya akan menguasai dunia itu sendiri”. Sepertinya VOC sangat berpegang teguh pada teori Raleigh tersebut, dan toeri tersebut benar adanya. Bahkan Alfred Theyer Mahan seoarang Laksamana Laut AS (1860 – 1914) yang terkenal dengan teori Mahan, juga berpandangan dan berpendapat serupa dengan Raleigh pendahulunya. Lautan adalah sumber dari segala sumber, dan lautan merupakan kekuatan dari segala kekuatan. Pemilik dan penguasa lautan akan jadi penguasa dari sumber dari segala sumber dan pemilik kekuatan dari segala kekuatan, dengan artian sederhananya adalah sang penguasa dunia beserta isinya.

Penguasaan wilayah lautan Nusantara oleh VOC membawa pengaruh yang sangat luar biasa besar pagi masyarakat Nusnatara. VOC dengan paksa telah menghapus memori dan rasa dari semangat dan jiwa kemaritiman Nusantara. Dalam kondisi penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun lebih, semangat dan jiwa kemaritiman tersebut benar-benar hilang. Telah terjadi pemutusan rantai dan penghapusan ingatan perorangan akan semangat dan jiwa maritim Nusantara sebanyak tiga generasi. Alhasil pada generasi ke empat merupakan generasi bentukan VOC, yakni generasi berwawasan kontinental atau darat, dengan karekter dan budaya daratan juga. Darat dipandang sebagai rumah sekaligus halaman, sedangkan laut dipandnag sebagai hutan belantara yang berbahaya dan bukan habitat mereka. Budaya daratan ini terus tertanam hingga kegenrasi berikutnya, dan secara perlahan budaya laut benar-benar terlupakan hingga ke akar-akarnya.

Awal dari penguasaan VOC terhadap laut Nusantara menjadi akhir dari tradisi maritim bangsa samudera yang berdiam dari Sabang sampai Merauke. Kapal-kapal Nusnatara yang tersohor ketangguhan dan keanggunannya hingga ke Venicia, pada detik ini benar-benar telah terhapus dari ingatan bangsa ini, telah punah tak bersisa. Demikian pula hal nya dengan semangat dan jiwa maritim masyarakat Nusantara yang terkenal sebagai bangsa pelaut penunggang ombak dari timur jauh, nyata telah hilang bahkan terhapuskan dalam setiap ingatan juga catatan sejarah bangsa ini. Hal ini jelas terlihat pada orientasi bangsa ini yang kini lebih melihat darat dari pada laut, lebih menggap darat sebagai rumah dan laut hanya sebagai hutan belantara yang menakutkan. Bahkan dalam catatan arsip harian laporan kapal dan pelabuhan diseluruh wilayah Nusantara sejak masa kolonial, yang tercatat dalam kegiatan pelintasan samudera hanyalah kapal-kapal dagang milik VOC dan kapal dagang asing lainnya, sedangkan kegiatan maritim pribumi tercatat hanya sebagai penangkap ikan dipinggir pantai dengan perahu katir kecil-kecil. Ini lah awal dari sebuah akhir, satu masa dimana kejayaan maritim Nusantara hanyalah sebuah dongengan belaka. Diingat dan dikenang tuk tenggelam dalam angan-angan. Berkhayal dan bergelayut dalam mimpi-mimpi.

REVOLUSI ATAU MATI!!

“Revolusi atau mati!! Dalam remukmu, kau dipaksa bangkit atau tidak sama sekali. Revolusi atau mati! Biru pun kini jadi kelabu, membeku dalam ketidak tahuanmu. Revolusi atau mati! Lautan telah lama berseru, menderu bagai ombak latsefa mebangunkan tidur panjangmu. Revolusi atau mati! Penjelajah bahari tewas ditembak resolusi 1787, bahkan hingga detik ini pun masih dininabobokkan iklan di tivi. Revolusi atau mati! Kembalilah menjadi bangsa samudera. Bangkit sekarang, atau tidak sama sekali!”

Syair di atas menjadi cerminan kegelisahan saya sebagai seoarang pemuda terhadap kemaritiman Nusantara. Ditekan dan tertekan selama ratusan tahun dibawah bendera merah putih biru benar-benar telah membius bangsa ini hingga mati suri kemaritimannya, bahkan sejak dikumandangkannya gelora kemerdekaannya pada 17 Agusutus 1945, masih belum bisa bangkit dari obat bius VOC yang telah mendarah daging dalam hal mental dan pola pikir.  Revolusi atau mati! menandakan jikalau posisi bangsa ini benar-benar berada pada pingggir zaman, yang dengan kata lain, bangkit sekarang atau tidak akan pernah bangkit sama sekali.

Kebijakan pemerintah yang berkiblat pada daratan sejak masa kepemimpinan Soekarno sebenrnya telah mencoba untuk bangkit dari tidurnya dengan beberapa cara dan upaya.  Momentum pertama kebangkitan Nusantara dalam dunia maritimnya diawali pada deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957. Dalam deklarasi tersebut Indonesia menyatakan dirinya sebagai suatu negara yang menganut prinsip-prinsip kepulauan. Selanjutnya Soekarno kembali memperjelas dan mempertegas prinsip tersebut melalui MUNAS (Musyawarah Nasional) Maritim pertama pada 23 Sepetember tahun 1963. Dalam Munas Maritim tersebut Soekarno berseru dan mengajak bangsa ini untuk kembali menjadi bangsa samudera.

Pada era orde baru, pergerakan bangsa ini dalam bidang kebangkitan maritimnya hanyalah langkah kecil yang tidak begitu berarti, yakni suatu tindakan stratifikasi UNCLOS 1982 yang berkenaan dengan ZEE perairan Nusantara seluas 12 mil laut. Baru pada masa rezim selanjutnya dilakukan kembali kebangkitan maritim Indonesia yakni di era presiden Abdurahman Wahid, yaitu dengan mendirikan DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan). Bidang ini kemudian tetus berkembang hingga pada akhirnya membentuk sebuah keentrian sendiri. Sayangnya kementrain dan DKP ini masih berkutat dan fokus kepada masyalah perikanan dan sumber daya lau saja, sementara didalam bidang penting lain seperti semangat dan jiwa kemaritiman yang terbentuk melalui budaya dan karakter, belum tersentuh sama sekali.

Menyikapi salah satu program kebangkitan jiwa maritim Indonesia yang baru ini terselenggara yakni Sail Morotai 2012, masih terblang jauh dari yang diharapkan. Menajemennya dan bobot pembentukan semangat dan jiwa kemaritiman yang dicerminkan melalui materi-materi dan juga kegiatan yang diberikan kepada peserta boleh dikatakan hanya 5 % yang bersinggungan dengan semangat dan jiwa maritim. Kalau lah dengan cara seperti ini pemerintah dan bangsa ini mengupayakan kebangkitan maritimnya, mungkin dibutuhkan waktu 200 tahun untuk bisa kembali bangkit menjadi bangsa maritim, kembali bangkit menjadi bangsa samudera. 200 tahun dari sekarang, mungkin pula Indonesia telah dibeli atau dijual kepada investor asing yang tahu benar akan potensi kelautan bangsa ini yang tersimpan di perut samudera.

Bangkit sekarang atau tidak sama sekali. Kebangkitan maritim bangsa ini ada pada generasi emas bangsa ini. Generasi yang telah dipercaya akan mengubah nasib bangsa ini. Namun apabila program pemerintah beserta kebijakannya masih seperti yang sebelumnya, maka kebangkitan itu hanya ada dlam mimpi, dan kemaritiman Indonesia akan terus terkubur di dasar laut, bernasib serupa dengan undang-undnag kelautan yang hingga detik ini belum di syahkan juga. Hanya ada satu kata, satu pilihan dan satu gerakan, Revolusi atau mati.

REKOMENDASI

Ada beberapa hal yang patut saya sampaiakan dalam hal ini. Yang secara idelaisme tidak kurang, dan secara pelaksanaan juga sangat relistis sekali, yakni sebagai berikut:

  1.  Mensyahkan undang-undang kelautan
  2. Pembentukan kurikulum bidang kemaritiman untuk sekolah dan perguruan tinggi
  3. Pengembangan kebudayaan maritim, yang dipertegas melalui PERDA (Peraturan Daerah) dimasing-masing Provinsi.
  4. Membuat anggran khusus untuk bidang kemaritiman
  5. Memicu para generasi intelektual muda lewat ajang lomba karya tulis dibidang maritim dan kegitan inteletual lainnya.
  6. Perbaikan menajemen dan kualitas dan bobot kemaritiman kegiatan sail berikutnya.
  7. Membangun museum maritim (Bahari) di masing-masing Provinsi di Nusantara.
  8. Mendukung pengembangan sarana transportasi laut
  9. Kembali menggali sejarah kemaritiman Nusnatara lewat peneltian-penelitian
  10. Mengembangkan usaha perkapalan Nusantara.

Profil Penulis.

Nama: Asyhadi Mufsi Sadzali

Pendidikan: Magister ARKEOLOGI UGM

MAIL: didi_roten@yahoo.co.id

Hp: 085768127xxx


Responses

  1. Keren mas tulisannya. Ditunggu tulisan terbarunya🙂

    • maaf bro.. baru bls. makasi makasi. dah lama nih ga buka wordpress..hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: