Posted by: OrangLaut | November 9, 2015

Kembali Menjadi Bangsa Samudera

Kembali Menjadi Bangsa Samudera

Oleh: Asyhadi Mufsi Batubara,M.A

Indonesia. Cukup sulit untuk mengeja 17.508[1] wajahnya lewat kata, akan tetapi cukup mudah untuk mengeja 17.508 wajah Indonesia lewat alam dan kebudayaannya “keindahan mahakarya”. Indahnya Indonesia tergambar dari keberagaman suku bangsanya, hingga eksotisnya wilayah Tapanuli yang terbentang dari teluk Sibolga sampai ke danau Toba. Sebagai negara kepulauan yang kaya dan indah, Indonesia telah dikenal masyarakat dunia sejak zaman Firaun. Tercatat ratusan kapal dari berbagai belahan bumi datang berlayar menuju pelabuhan-pelabuhan kuno yang tersebar di negeri di bawah angin[2] hanya untuk mencari komoditas langka yang berharga[3]. Barus merupakan salah satu pelabuhan yang tercatat paling kuno dan paling banyak dikunjungi diantara yang lain, bahkan mengalahkan reputasi Rembang, Tuban atau pun Sunda Kalapa. Penelitian arkeologi telah memperkuat pernyataan ini dengan didasarkan pada artefak hasil penggalian[4] dan kajian teks kuno yang dilakukan di wilayah Barus[5]. Penemuan beragam artefak selama penggalian yang di mulai dari tahun 1967 hingga dekade tahun 2000, telah memperkuat bukti bahwa pada masa lampau Barus berperan sebagai pelabuhan internasional dengan jaringan antar samudera. Layaknya sebuah pelabuhan internasional yang disinggahi beragam etnis[6], Barus pun tumbuh menjadi kota dagang yang prural namun harmonis. Hidup damai berdampingan dimana antar etnis saling menghargai, saling bekerjasama walaupun berbeda asal usul dan keyakinan[7].

Keberadaan Barus dimasa lalu sebagai pelabuhan internasional telah membawa pengaruh yang sangat besar pada kebudayaan dan jalannya sejarah di Tapanuli. Beragam etnis yang kini mendiami wilayah Tapanuli tidak lepas dari keberadaan Barus sebagai kota dagang sekaligus pintu gerbang memasuki wilayah pedalaman[8]. Bahkan apabila dilihat dari perawakan suku bangsa yang mendiami wilayah Padang Lawas di Tapanuli Selatan yang berbadan tegap dan hidung mancung, kemungkinan terdapat pengaruh genetik orang Tamil dan India Selatan[9]. Bahkan dalam cerita rakyat maupun kepercayaan masyarakat adat, bahwa beberapa marga Mandailing yang berdiam di Tapanuli Selatan merupakan keturunan etnis Bugis[10].

Peran Barus dalam pelayaran dan perdagangan di masa lalu telah memberikan pengaruh besar bagi wilayah sekitarnya, termasuk Pulau Nias[11] yang terhubung secara langsung oleh teluk Sibolga. Wilayah Tapanuli hinggga kini masih menyimpan bukti-bukti kejayaan maritim dimasa lampau. Kejayaan yang bahkan telah ada jauh sebelum selat Malaka ramai dilayari dan sebelum Sriwijaya tumbuh sebagai kedaulatan maritim terbesar di Asia Tenggara. Letaknya yang strategis dan potensi sumber daya alam yang kaya telah membawa Tapanuli pada puncak popularitasnya sehingga ingin dikuasi oleh Raja Rajendra Chola[12], dan bahkan oleh Majapahit pada masa kemudian. Kini lebih dari seribu tahun telah berlalu dan jejak material dari sisa pelabuhan Barus sudah tidak tampak lagi, namun sumber daya lautnya yang kaya dan posisi strategisnya tetap menyimpan potensi yang luar biasa. Dengan potensi laut yang begitu melimpah seharusnya Tapanuli tubuh menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera, namun wilayah Tapanuli kini seakan hidup dalam dunia paradoks. Sekalipun memiliki kekayaan sumber daya laut akan tetapi pengembangan dan pengelolaannya belum ditangani secara serius. Hal ini diakui oleh Gatot Pujo Nugroho selaku Plt Gubernur Sumatra Utara, bahwa potensi laut Sumatera Utara benar-benar terabaikan dan bahkan mengakibatkan banyaknya kerusakan hutan mangrov[13].

Tapanuli adalah salah satu contoh kecil terabaikannya kemaritiman Indonesia yang pada hakekatnya negara kepulauan terkaya dan terbesar di dunia. Fakta terbaru yang cukup menggelikan yakni dimana Indonesia mengimpor Ikan dari China[14]. Indonesia sebagai Archipelago state[15] semestinya tumbuh sebagai negara maritim pengekspor ikan, pengembang dan pengguna utama sumber daya energi laut, dan pusat pengkajian maritim dunia. Harus diakui untuk waktu yang lama perhatian pemerintah, penanam modal bahkan penduduk Indonesia lebih banyak tercurah pada darat. Demikian juga dengan peran ilmuwan sosialnya. Kajian maritim yang langka dan terbilang bisa dihitung dengan jari, kalaupun ada maka penelitian itu umumnya dilakukan oleh ilmuwan asing[16]. Ada apa dengan Indonesia? Adakah yang salah dengan mindset paradigma dan pemimpin kita? Akan bagaimana Indonesia kita, dan akan seperti apa identitas kita sebagai Indonesia bila laut terlupakan dan dibaikan?

Tapanuli Yang Indonesia

“Indonesia Tanah-Airku” merupakan baris pertama dari bait pertama lagu kebangsaan Republik Indonesia. Kalimat ini mengandung makna mendalam yang mencerminkan keberadaan dan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan. Pulau-pulaunya yang berjumlah ribuan dengan masing-masing karakteristik manusia dan budaya yang berbeda-beda dipersatukan dan dihubungkan oleh laut. Selat Sunda menghubungkan pulau Sumatera dengan pulau Jawa, teluk Sibolga menghubungkan Tapanuli dengan kepulauan Nias dengan 132 pulaunya. Diantara pulau-pulau tersebut ada laut yang saling menyambung tanpa terputus, menghubungkan satu sama lain yang bahkan menghubungkannya dengan dunia luar. Media inilah yang membentuk dan melahirkan Indonesia jauh dimasa dimana Indonesia masih dikenal dengan sebutan Nusantara. Laut tidak hanya sebatas media pemersatu saja, akan tetapi laut juga berperan penting dalam membentuk perjalanan sejarah, juga mempengaruhi karakteristik kebudayaan suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia termasuk Tapanuli[17]. Kebudayaan maritim banyak mempengaruhi wilayah-wilayah di Indonesia seperti misalnya Tapanuli, baik pengaruh dalam bidang seni, sosial, maupun dalam pembentukan identitas Tapanuli. Kota Sibolga yang terletak di pantai Barat Tapanuli merupakan satu contoh kecil dari keberagaman etnis di Tapanuli Tengah sehingga kota ini dijuluki dengan “Negeri Berbilang kaum”, atau wilayah yang terdiri dari beragam etnis[18].

“Nenek Monyangku Orang Pelaut” atau semoboyan-semobonyan lain “Kita Adalah Bangsa Bahari” pada generasi sekarang mungkin tidak dikenal lagi. Namun pada kenyataannya, itulah kita Indonesia, itulah kita suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Tapanuli yang terbentang dari teluk Sibolga hingga ke pantai Timur Sumatera Utara. Ragam etnis di Tapanuli[19] yang begitu beragam merupakan gambaran dari Indonesia yang prural, demokratis dan harmonis. Keberadaan berbagai macam etnis di Tapanuli tidak terlepas dari kegiatan pelayaran dan perdagangan di wilayah Barus pada masa lampau. Barus yang terletak di pantai barat Tapanuli sejak abad ke-10 M telah menjadi pelabuhan internasional yang strategis dan kaya komuditas langka, sehingga mampu mendatangkan beragam suku bangsa yang kemudian berdiam di wilayah Tapanuli[20]. Kekayaan alamnya terbukti membawa peran penting Barus dalam jaringan perdagangan internasional di masa lampau. Kapal-kapal asing singgah dan berlabuh di Barus maupun di teluk Sibolga untuk mencari kamper atau kapur Barus, dan komoditas penting lainnya[21]. Selain kekayaan alam yang dimiliki wilayah Tapanuli, letak perairan nya yang strategis juga mendukung Barus pada posisinya sebagai pelabuhan internasional pada masa itu. Perairan yang tenang di pantai barus dan teluk sibolga menjadikannya tempat yang baik untuk berlabuh. Disamping itu, pantai barat Tapanuli juga secara langsung berbatasan dengan samudera Hindia yang menghubungkan dengan India dan Afrika. Hingga kini, walaupun lebih seribu tahun telah berlalu dari masa kejayaan Barus, teluk Sibolga dan pesisir Tapanuli masih memiliki pesona yang sama. Perairannya senantiasa ramai dilalui kapal-kapal kargo dan tengker yang hendak berlayar menuju India dan Afrika, demikian juga dengan hasil alamnya yang tetap melimpah seperti dahulu kala. Disamping itu, kekayaan lautnya juga begitu melimpah. Terdapat berbgai jenis ikan, namun yang benyak dikembangkan adalah ikan Napoleon yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Begitu juga dengan mutiara, kapur barus, kemenyan, rempah-rempah, kopi luwak, yang semuanya diangkat dari pedalaman Tapanuli menuju pelabuhan Sibolga yang seterusnya akan diekspor dengan kapal kargo ke berbagai penjuru dunia[22].

Laut secara langsung menghubungkan teluk Sibolga dengan kepulauan Nias yang jumlahnya mencapai 132 pulau. Sejak era Barus kuno hingga sekarang, peranan Nias dalam kemaritiman Tapanuli cukup signifikan. Nias merupakan wilayah penghasil kelapa, mutiara, dan ikan untuk wilayah pantai Barat Tapanuli. Landscape-nya yang khas pesisir membuat pohon kelapa tumbuh subur dimana-mana. Sedangkan lautnya yang terbentang hingga samudera Hindia merupakan ground fishing yang menghasilkan banyak ikan dan cocok untuk budidaya ikan dan mutiara. Potensi sumber daya laut pulau Nias yang luar biasa juga sebanding dengan potensi wisatanya. Terdapat 14 pantai yang kini dikategorikan sebagai spot surfing favorit berkelas dunia, yang antara lain pantai Moale, Nias Selatan[23]. Nias dan Tapanuli yang sangat potensial hingga kini belum dikembangkan dan dikelola secara serius oleh pemerintah. Terbukti setelah Tsunami melanda Nias pemerintah seperti enggan untuk mempromosikan keeksotisan Nias kepada wisatwan, sehingga Nias hingga kini sepi pengunjung termasuk tidak pernah diadakannya lagi event surfing. Contoh lain misalnya dalam mamaksimalkan penangkapan ikan di perairan Sibolga yang baru bisa mencapai 10%, dikarenakan minimnya pasilitas penagkapan ikan yang memadai secara pengetahuan dan teknologi. Nelayan di pesisir teluk Sibolga hingga saat ini hanya bermodalkan perahu jukung bercadik berukuran panjang 5 s/d 8 meter dengan mesin tempel yang hanya mampu melaut sejauh 2 s/d 3 mil dari garis pantai[24]. Ironis memang. Indonesia yang begitu melegenda dalam kemaritiman dan sumber daya alamnya, dikalahkan oleh mindset paradigma pembangunan dan arah kebijakan yang lebih condong pada daratan[25].

Tapanuli dan Indonesia sejatinya adalah sama. Alamnya yang indah, lautnya yang kaya, dan keberagaman etnisnya. Ismail Marzuki dalam lyrik lagunya “Indonesia Tanah-Air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala. Tetap dipuja-puja bangsa” menggambarkan Indonesia yang sejatinya adalah negara kepulauan terkaya. Negeri yang telah sejak dahulu dimpikan dan ingin dikuasai oleh orang asing, namun rasa persatuan dan persaudaraan antar etnis menjadikan Indonesia tetap utuh dalam satu lautan yang sama. Karakter ini telah tumbuh jauh sejak akar generasi terdahulu. Ombak dan gelombang yang dinamis membuat masyarakatnya bersifat dan berpikiran dinamis juga. Laut juga berperan sebagai media komunikasi yang bersifat integratif, dengan kata lain walaupun tanpa diikat oleh kekuasan politik, masyarakat Nusantara sejak dahulu sudah menjalin interaksi. Masyarakat Nusantara adalah masyarakat pancasilais, demikian juga dengan masyarakat Tapanuli, ataupun masyarakat lainnya yang tersebar disepanjang kepulauan Nusantara[26]. Tanpa karakter maritim yang telah tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakatnya, mustahil hubungan dagang dan hubungan sosial antar etnis di era Barus Kuno dapat terjalin, dan juga mustahil hingga detik ini antar etnis di Tapanuli bisa hidup berdampingan dengan begitu harmonis.

Tapanuli yang Bhineka Tunggal Ika, juga begitu mengindonesia dalam nasionalismenya. Terbukti dimana putra-putri Tapanuli telah ambil bagian dalam peta perjalanan sejarah bangsa. Keterlibatan masyarakat Tapanuli dalam melawan Belanda dimulai sejak masuknya Belanda dari wilayah Rao[27]. Belanda digempur pasukan Sutan Mangkutur sejak pertama kali Belanda menginjakkan kakinya di wilayah Tapanuli[28]. Sumbangsih putra Tapanuli juga tercatat dibidang pendidikan yang banyak berperan dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan di Indonesia. Sutan Sati (Willem Iskandar) yang lahir di Pidoli Lombang, Tapanuli Selatan[29]adalah seoarang pendiri sekolah guru pertama di Sumatera dan yang kedua di Indonesia (setelah Surakarta)[30]. Berkat sekolah guru yang didirikan Willem Iskandar, putra-putri Tapanuli yang telah menjadi guru menyebar ke segala penjuru Sumatera, sehingga masyarakat Tapanuli tercerdaskan dan melahirkan banyak tokoh perjuangan dan pembangunan Indonesia. Pada era kemerdekaan, beberapa putra Tapanuli muncul di berbagi sektor, seperti misalnya Adam Malik Batubara (salah satu penggagas proklamasi), Amir Syarifuddin Harahap (salah satu founding father/perdana mentri), Dr. Gindo Siregar (Gubernur Jendral Tapanuli-Sumatera Timur), Jenderal Abdul Haris Nasution, Sakti Alamsyah Siregar (Penyiar RRI yang mengudarakan pembacaan proklamasi, dan Letnan Sahala Muda Pakpahan yang dikenal sebagai Nagabonar. Tapanuli dan seluruh anak bangsanya telah sejak dahulu melebur dalam ke-Indonesian, dan dengan segenap tumpah darahnya merasa bangga menjadi orang Indonesia. Di hubungkan dan dipersatukan oleh laut dengan seluruh pulau-pulau di Nusantara, menjadikan kita satu dalam ikatan kebangsaan, Indonesia.

Kembali Menjadi Bangsa Samudera

“Kami datang dari laut, tapi kami tidak mengenal laut. Kami lahir dekat sekali dengan laut, tapi kami bukan bagian dari laut. Kami putra ombak yang terhempas air pasang, terseret jauh hingga daratan. Kami syair lautan yang terputus dari deburan, hilang jejak dari sejarah yang panjang. Kami dahulu adalah putra ombak, datang dari laut dan terlahir dekat sekali dengan laut. Lihatlah kami, lihatlah laut kami. Lautku kaya, tapi kami miskin. Lihatlah kami, lihatlah sekolah kami. Ikan adalah barang mahal, tapi buku kami tak mampu beli. Kami adalah putra ombak, sampai hari dimana kami akan bangkit kembali[31]”.

Secara geografis Indonesia merupakan negara maritim, dimana laut mendominasi dan menjadi pembentuk utama dan sebagai pemersatu pulau-pulau didalamnya. Secara kebudayaan, masyarakatnya yang prural banyak dipengaruhi oleh laut sehingga melahirkan kebudayaan maritim yang berpandangan “dimana perbedaan adalah kita, karena berbeda maka kita Indonesia” Bhineka Tungal Ika[32]. Demkian halnya dengan tanah kelahiranku Tapanuli yang birunya terhampar dari teluk Sibolga hingga pada hijaunya pepohonon di tepian danau Toba. Secara historis wilayah Tapanuli telah mengalami pembauran antar etnis sejak era Barus pada abad ke-1 M[33]. Para leluhurku dari marga Batubara merupakan orang-orang pesisir yang bermigrasi dari wilayah pantai Timur Sumatera Utara[34] menuju wilayah Tapanuli Selatan. Budaya maritim[35] yang telah melekat ternyata memudahkan mereka untuk berbaur dan menjalin hubungan kerjasama dengan orang-orang Mandailing[36], yang salah satunya adalah marga Lubis. Leluhur orang-orang bermarga Lubis sendiri berdasarkan cerita rakyat adalah Daeng Malela yang berasal dari Bugis[37], masuk ke Mandailing melalui sungai Batang Gadis[38]. Keindahan Tapanuli tidak hanya dilihat dari alam dan keberagaman penduduknya saja, namun juga kakayaan sumber daya alamnya seperti emas dan kopi yang pada masa dahulu dilayarkan melalui sungai Batang Gadis yang bermuara di pantai Barat[39].

Tidak mengherankan bila budaya maritim tidak hanya milik orang pesisir melainkan dikenal juga pada masyarakat pedalaman, karena pada kenyataannya sungai-sungai besar telah menghubungkan mereka dengan lautan[40]. Hal ini semakin jelas dengan keberadaan 14 relief kapal yang terpahat pada candi Borobudur[41]. Seperti air yang 80% mendominasi tubuh manusia, demikian juga dengan Indonesia yang hidup matinya dekat dengan air. Budaya ngelarung atau budaya upacara di laut seperti di Bali, Jawa, atau dengan istilah lain di Tapanuli ‘marpangir’ hingga kini masih dapat kita jumpai dalam keseharian masyarakat kita. Leluhur kita datang dari laut[42], dan kita terlahir dekat sekali dengan laut[43]. Para pendiri bangsa ini paham dengan kondisi ini, sehingga pada saat diikrarkannya sumpah pemuda (1928), dipertegas bahwa kita bangsa Indonesia bertumpah darah yang satu, Tanah-Air Indonesia. Kemudian arti penting laut bagi bangsa Indonesia dipertegas lagi oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya pada pembukaan MUNAS Maritim I (1963), yang secara tegas menyatakan bahwa kita adalah negara maritim sehingga segenap anak bangsa harus sadar akan peran penting laut sebagai sumber kehidupan, dan sebagai sumber daya alam yang 80 % mendominasi Indonesia[44].

Laut yang mendominasi wilayah Indonesia[45] ternyata belum mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Menurut Bappenas, ada 31 juta orang miskin dan 29 juta lebih hampir miskin. Kalau yang miskin itu disatukan dengan yang hampir miskin berarti ada 60 juta orang yang tergolong miskin di negeri ini[46]. Keprihatinan semakin muncul kalau mendengar banyaknya kasus laut yang muncul di Indonesia, baik berupa kecelakaan kapal, penyelundupan, penyalahgunaan wewenang oknum penegak laut, kencing BBM di laut, pencurian BMKT, pencurian ikan dll. Secara tidak sadar ataupun sadar, hal ini telah terjadi puluhan tahun. Pemerintah seolah lupa bahwa wilayah laut NKRI hampir mencapai 5,8 juta km2 atau 75% dari total luas wilayah seluruhnya. Sayangnya laut seakan di anak tirikan, di nomor duakan. Terlihat bagaimana pembangunan di darat jauh lebih maju dibandingkan di laut. Dengan model paradigma pembangunan Indoensia yang ber-mindset darat, tidak mengherankan bila potensi kekayaan laut yang melimpah terabaikan dan dilupakan[47]. Tentu kemerosotan ini tidak bisa dibiarkan terus berkepanjangan. Penulis lewat esay ini menyuarakan ajakan untuk kita berdiri sejenak menghadap lautan, memandanginya dengan seksama, dan merenungkan peran penting laut bagi kehidupan bangsa Indonesia dimasa kini dan dimasa yang akan datang. Sebagai yang muda, tanggung jawab bangsa ini ada dipundak kita. Bangkit tidaknya kemaritiman Indonesia juga ada ditangan kita, ditanga pemuda-pemudi Indonesia yang pada tahun 2020 akan menjadi pemimpin-pemimpin penentu kebijakan di negeri. Buka mata, pandangilah lautan luas milik kita. Disanalah sumber kehidupan bangsa ini, sumber kemakmuran yang akan membawa Indonesia kembali pada kejayaannya. Untuk dibutuhkan perubahan terkecil dalam diri kita pemuda Indonesia, yakni dengan mengubah mindset atau cara pandang yang selama ini lebih condong pada daratan menjadi mindset ber-wawasan Nusantara, melihat Indonesia dengan seutuhnya dimana ada laut diantara pulau-pulau yang menyatukan kita dalam bingkai kebangsaan.

Penulis sebagai putera dan pemuda Tapanuli, akan menyuarakan kampanye potensi maritim untuk membangkitkan kembali kemaritiman di Tapanuli. Diawali dengan mempopulerkan Sejarah Barus kepada generasi muda Tapnuli yang selama ini terpendam dalam laporan-laporan arkeologi untuk menumbuhakn rasa bangga dan kesadaran maritim. Melalui pengetahuan sejarah dan potensi kemaritiman di Tapanuli kiranya akan membentuk mindset yang maritim di kalangan generasi muda Tapanuli. Perubahan mindset menjadi hal utama yang harus dibenahi yang kemudian secara bersamaan akan mendorong mereka pada aksi nyata dengan terjun langsung sebagai bagian dari kemaritiman itu sendiri. Mindset atau cara pandang yang maritim ditambah pengetahuan yang cukup, generasi muda Tapanuli akan sadar bahwa laut Tapanuli yang begitu luas tidak akan habis dan kurang untuk digarap semua putera Tapanuli. Tidak akan ada lagi pengangguran, dan nelayan bukan lagi kelas sosial terendah dengan taraf kehidudupan terendah yang selama ini dipandang sebelah mata. Bahkan krisis air bersih[48] di sepanjang pesisir Tapanuli bila musim kemarau tidak akan terjadi lagi bila pemenuhan air bersih telah dapat diperoleh dari laut melalui desalinasi[49]. Perlu kita ketahui bahwa 97% pasokan air di bumi berada pada laut, sedangkan air yang terdapat di darat, baik air dalam tanah maupun permukaan hanya berjumlah 3%. Tentunya laut Indonesia yang begitu luas, dengan menerapkan desalinasi akan mampu mengatasi persoalan krisis air bersih. Disamping itu, laut Tapanuli dengan arusnya yang cukup kuat dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga arus[50]. Metode ini pada tahun 2006 s/d 2010 pernah di uji cobakan oleh Puslitbang Geologi Kelautan bekerja sama dengan ITB dengan zona uji coba di selat Lombok dan selat Alas[51]. Pada beberapa negara seperti Skotlandia, Prancis, Swedia, Italia, Inggris, Amerika dan Korea Selatan telah berhasil menerapkan pembangkit listrik tenaga arus dan pasang surut ini. Terlebih untuk Tapanuli maupun Indonesia dengan potensi sumber daya lautnya yang ber-arus kuat, tentulah pembangkit listrik ini akan mampu menyediakan kebutuhan listrik murah bagi seluruh masyarakat Tapanuli dan indonesia secara luas.

Tapanuli merupakan salah satu wilayah dari ratusan wilayah lain di Indonesia yang masing-masing memiliki potensi kemaritiman. Dalam hal ini Tapanuli bukanlah sebagai trend senter dalam membangkitkan kemaritiman Indonesia, akan tetapi hanya sebagai salah satu wilayah yang sadar dan ingin kembali menjadi bangsa Samudera, bangsa maritim yang sejak era Barus kuno telah berjaya. Dan bila semua wilayah di Indonesia melakukan hal yang sama, tentu kemaritiman kita yang selama ini mengalami kemerosotan akan bangkit dan bersinar kembali. Harapan penulis sebagai pemuda Indonesia, mari kita mulai dari lokal-lokal terkecil untuk menyulut aksi menuju ruang lingkup yang lebih besar, Indonesia. Adapun pemeran utama dalam kampanye maritim ini adalah kita para generasi muda, pemuda-pemudi Tapanuli, Madura, Bengkulu, Sorong, Ternate, putera-puteri Indonesia. Lewat kampanye kebangakitan maritim ini kita jadikan sebagai satu langkah besar menuju perubahan Indonesia. Jalesviva Jayamahe, lewat laut kita belajar, dan lewat laut kita bangkit menuju negara maritim Nusantara.

“Revolusi atau mati. Dalam remukmu, kau dipaksa bangkit atau tidak sama sekali. Revolusi atau mati. Biru pun kini jadi kelabu, membeku dalam ketidak tahuanmu. Revolusi atau mati. Lautan telah lama berseru, menderu bagai ombak Latsefa mebangunkan tidur panjangmu. Revolusi atau mati. Penjelajah bahari tewas ditembak Resolusi 1787, bahkan hingga detik ini pun masih dininabobokkan iklan di tivi. Revolusi atau mati. Kembalilah menjadi bangsa samudera. Bangkit sekarang, atau tidak sama sekali”[52].

Rekomendasi AKSI: Kampanye Maritim Indonesia

Kampanye maritim Indonesia adalah salah satu tawaran berupa aksi nyata pemuda-pemudi Indonesia yang ditawarkan penulis sebagai rekomendasi untuk segala pihak dalam upaya membangkitkan kemaritiman Tapanuli, dan Indonesia secara luas. Pencapaian kampanye ini dititik beratkan pada tiga pilar kebangkitan maritim; (1) untuk mengubah mindset atau cara pandang segenap anak bangsa yang selama ini lebih condong pada daratan, (2) peningkatan produksi hasil laut baik makanan, mineral, maupun energi melalui langkah-langkah edukasi publik dibidang maritim untuk menyikapi pertambahan penduduk, (3) memasyarkatkan kembali kebudayaan maritim dengan jalan pengembangan tradisi, seni-budaya, program, kegiatan, maupun pendidikan berbasis kemaritiman disegala sektor dan wilayah secara berkelanjutan. Adapun beberapa rekomendasi aksi adalah sebagai berikut:

  1. Arah kebijakan dan politik pemerintah yang pro-maritim
  2. Segera membentuk dan mensyahkan Undang-Undang Kelautan
  3. Dalam RUU Kebudayaan yang tengah dibentuk, perihal kebudayaan kemaritiman mendapatkan perhatian dan porsi yang sama dengan kebudayaan kontinental
  4. Pemerntah daerah hendaknya mengeluarkan kebijakan dan peraturan terkait pengelolaan, pengembangan, investasi, dan eksploitasi dibidang kemaritiman.
  5. Pembangunan museum bertema maritim disetiap provinsi di seluruh Indonesia.
  6. Sejarah maritim dijadikan bagian dalam kurikulum pendidikan sejarah dengan porsi yang seimbang dengan sejarah daratan
  7. Memasyarakatkan kemaritiman lewat media, Tv, Radio, Iklan, Film, karya Sastra dll.
  8. Promosi wisata bahari/maritim hendaknya juga menekankan bidang pendidikan, budaya dan nilai-nilai luhur kebudayaan maitim setempat.
  9. Program, kegiatan dalam bidang kemaritiman untuk pemuda-pemudi seperti sail, KPN, Jambore, Palantara dll, lebih menekankan lagi pada aspek pembentukan mindset, mental, dan wawasan Nusantara.
  10. Program 100 aksi untuk lautan biru, yakni beripa, penerbitan 1000 buku brtema maritim, 100 karya sastra di bidang maritim, 100 iklan layanan masyarakat dan pariwisata maritim,

Daftar Pustaka

Asnan, Gusti. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Penerbit Ombak. Yogyakarta, 2007.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Simpul-Simpul Sejarah Maritim: Dari Pelabuhan ke Pelabuhan Merajut Indonesia. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Jakarta, 2005.

Lubis, Pangaduan Z. Asal Usul Marga-Marga Di Mandailing. Pustaka Widiasarana. Medan, 2010.

Lebih Jauh Tentang Willem Iskandar dan Si Bulu Bulus, Si Rumbuk Rumbuk. Pustaka Widiasarana. Medan, 2011.

Mattulada, H. A. Sumber Budaya Bahari Nusantara “Dalam Buku Kepemimpinan Bahari: Sebuah Alternatif Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia”. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor, 2011.

Muljana, Slamet. Tafsir Sejarah Negarakertagama. LKIS. Yogyakarta, 2006.

Reid, Anthony. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta, 1992.

Sumatera Tempo Doeloe: dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Komunitas Bambu. Depok, 2010.

Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta, 2011.

Turner, Jack. Sejarah Rempah: Dari Eksotisme Sampai Imprealisme. Komunitas Bambu. Depok, 2011.

PANNAS BMKT. Kapal Karam Abad ke-10 di Laut Jawa Utara Cirebon. PANNAS BMKT. Jakarta, 2008.

Parlindungan, Mangaraja Onggang. PONGKINANGOLNGOLAN SINAMBELA gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mahzab Hambali Di Tanah Batak 1816-1833. LKIS. Yogyakarta, 2007.

Putranto, Algooth. Waspadai Laut China Selatan “Dalam Buku Tahun 1511: Lima Ratus Tahun Kemudian”. Kompas Gramedia.Jakarta, 2012.

Guillot, Claude. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 2002

Barus Seribu Tahun Yang Lalu. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta, 2008.

Provinsi Sumatera Utara. Mengenal Nusantara: Prpinsi Sumatera Utara. Sari Ilmu Pengetahuan. Bekasi, 2009.

Soekarno. Kembalilah Menjadi Bangsa Samudera: Amanat Presiden RI Pada Pembukaan MUNAS Maritim I di Jakarta. Deoartemen Penerangan RI. Jakarta, 1963.

Sonjaya, Jajang A. Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Penerbit Kanisius. Yogyakarta, 2008.

Suhardi, Gaudensius. Laut Indonesia Si Anak Haram “Dalam Buku Tahun 1511: Lima RATUS Tahun Kemudian”. Kompas Gramedia. Jakarta, 2012.

Sulistiyono, Singgih Tri. The Java Sea Network: Patterns In The Develovment of Interregional Shipping And Trade In The Procces of National Economic Integration in Indonesia, 1870s-1970s. (Dissertation Universiteit Leiden). Leiden, 2003.

Tabrani, Primadi. Belajar dari Sejarah dan Lingkungan: Ekspedisi Borobudur. Penerbit ITB. Bandung, 2011.

Wolters, O. W. Early Indonesian Commerce. A study of the origins of Srivijaya. Cornell University Press. New York, 1967.

Zuhadi, Susanto. Perspektif TANAH-AIR Dalam Sejarah Indonesia “Dalam Buku Analekta Pemikiran Guru Besar FIB UI” (Ilmu Pengetahuan Budaya dan Tanggung Jawabnya). Universitas Indonesia. Depok, 2011.

[1] 17.508 adalah jumlah kepulauan yang terdapat di wilayah negara kepulauan Indonesia. Terdiri dari pulau besar dan kecil yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa (Sulistiyono, 2003: 1).

[2] Negeri dibawah angin merupakan sebutan ataupun istilah kuno yang merujuk pada wilayah Asia Tenggra, dan istilah ini muncul dikarenakan oleh angin munson yang bertiup diwilayah ini antara bulan April November (Reid, 1992).

[3] Wilayah Indonesia dengan iklim tropis dan kontur tanah yang unik menghasilkan komoditas yang hanya bisa tumbuh diwilayah ini, seperti cengkeh di Ternate, lada di pedelaman Sumatera, kopi, kemenyan, dan kapur barus di wilayah pedalaman Tapanuli (Turner, 2011).

[4] O.W. Wolters pada tahun 1967 melakukan penggalian arkeologi pertama di Barus yang kemudian dimuat dalam Early Indonesian Commerce. A study of the origins of Srivijaya (Cornell University Press, Ithaca, New York, 1967). Dan terbitan terahir menyangkut penelitian di Barus adalah “Barus Seribu Tahun Yang Lalu oleh Claude Guillot terbitan KPG, 2008”

[5] Barus, secara administratif merupakan suatu wilayah Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis berada diantara 10 26-20 11 LU dan 910-980 53 BT. Berdasarkan berita China dan catatan para penjelajah asing, Barus telah menjadi kota pelabuhan di pantai Barat Tapnuli sejak periode abad 1 M, dan mencapai puncak kejayaannya di abad ke-10 M (Guillod, 2002, 2008).

[6] Sebuah prasasti Tamil yang ditemukan di desa Lobu Tua, dengan berbahasa Tamil dan berangka tahun 1010 saka bulan Masi (bulan Maret tahun 1088). Isi prasati sebagain besar menyebutkan tentang keberadaan anggota-anggota perkumpulan pedagang yang bernama “yang ke lima ratus dari seribu arah” ( Guillot, 2002).

[7] Berdasarkan temuan di lapangan dan merujuk pada kurun waktu berkembangnya Barus, diperkirakan masyarakatnya menganut lebih empat agama, Hindu, Budha (dengan adanya Biaro Bahal) agama lokal, islam (makam panjang).

[8] Salah satu bukti tertua berkembangnya etnis lain di wilayah pedalaman Tapanuli adalah komplek candi Portibi di hulu sungai batang panai Tapanuli Selatan. Berdasarkan ekskavasi arkeologi yang pertama kali dilakukan oleh Schinger pada tahun 1937, dan penelitian oleh Balai Arkeologi Medan, komplek percandian Padang Lawas bersal dari abaad ke-10 M. Dan diperkirakan asal penyebaran aliran Budha Tantrayana ke pulau Jawa dan Bali (Reid, 2010: 258-261).

[9] Keberadaan orang Tamil di wilayah Tapanuli dapat dilihat berdasarkan isi prasasti Tanjore, dan komplek percandian Padang Lawas di Tapanuli Selatan (Reid, 2010, Guillod, 2002, 2010).

[10] Diperkiran leluhur marga Lubis dan Nasution bersal dari etnis Bugis yang bernama Daen Malela yang tiba di Tapanuli bersama dengan pasukan Majapahit saat ekspansi ke Sumatera. Hal ini kemudian di perkuat dengan keterangan Mpu Prapanca dalam kitab NegaraKertagama pupuh 13 yang menyebutkan bahwa salah satu tanah taklukan Mapahit di wilayah Sumatera adalah Panai, Mandailing dan Toba (dapat dilihat dalam, Lubis, 2010. Muljana, 2006).

[11] Kepulauan Nias terletak di sebelah Barat teluk Sibolga (Sumatera Utara), dengan gugusan pulau besar dan kecil berjumlah 132 pulau, dan tidak semua pulau dihuni manusia. Terdapat lima pulau besaryakni Pulau Nias, Pulau Tanah Bala, Pulau Tanah Masa, Pulau Tello, dan Pulau Pinni (Sonjaya, 2008).

[12] Rajendra Chola I merupakan raja dari dinasti Chola di India Selatan yang naik tahta pada tahun 1014. Berdasarkan prasati Tanjore berbahasa Tamil, kerajaan Panai di Tapanuli dan Sriwijaya ditakalukkan melalui serangan yang dilancarkan pada tahun 1018 (Reid, 2010: 254).

[13] Dalam http://www.waspadaonline.co.id edisi Jumat, 27 Mei 2011 di unduh pada pukul 16:04 Pm.

[14] Pernyatan tersebut diperkuat dengan beberapa berita di media, seperti pada Republika edisi 11 Januari 2012 “Bikin Cemas Nelayan, Ikan Impor Cina Terus Diselidiki”, Detik Finance edisi 7 Juni 2012 “Cina Pemasok Ikan terbesar Ke Indonesia”, Tribun news edisi 10 Januari 2012 “Jalur Masuk Ikan Impor China ke Indonesia”.

[15] Berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, arche berarti utama dan pelagoyang artinya laut. Jadi bisa diartikan yang utama itu adalah laut atau bisa juga berarti laut yang utama (Zuhdi, 2011: 41).

[16] (Asnan, 2007).

[17] Pengaruh kebudayaan maritim dapat dilihat pada bentuk atap rumah suku Batak toba yang menyerupai perahu dan menunjukkan adanya pengaruh besar budaya perahu (Tabrani, 2011: 21).

[18] Kota Sibolga terletak di pesisir pantai barat Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. Penduduknya terdiri dari beragam etnis, sperti etnis melayu pesisir, batak toba, mandailing, bugis, nias, jawa, arab, dan tamin (www.tapteng.go.id) di unduh pada tanggal 7 April 2013.

[19] Ragam etnis wilayah Tapanuli terdiri dari beberapa suku bangsa, yakni suku Bangsa Batak Toba,Karo, Simalungun, Pakpak, Dairi, Angkola, Mandiling, Nias, Melayu Pesisir.

[20] Etnis Tamil (diperkuat dengan prasasti Tanjore dari abad ke-10 M), etnis China (banyak nya temuan dari dinasti Sung), etnis Yunani (nama Barus disebutkan dalam karya Ptolemaeus yang bejudul Geografi), etnis Arab (catatan Sulayman al-Mahri), orang kristen Nestorian, orang Jawa (berdasarkan temuan prasati berbahasa Jawa kuno pada arca Lokhanata dari abad ke 11), orang Yahudi (berdasrkan arsip-arsip Geniza dari Kairo), orang Batak (berdasrkan kronik Batak) dan beberapa etnis lain dari kawasan Nusantara (Guillot, 2002, 2008).

[21] Barang-barang yang dijual oleh saudagar dan penduduk setempat antara lain kapur barus, berbagai macam kayu, rempah-rempah, mutiara, wewangian, gading gajah, kemenyan, dan damar. Barang-barang ini ditukar dengan emas, perak, porselin, sutera, gula dan besi (Asnan, 2007: 49).

[22] Berdasarkan informasi statistik yang diperoleh dari pemerintah Siobolga lewat media onlinenya, pemanfaatn perikanan di laut Siobolga yang secara langsung terhubung dengan samudera Hindia hingga saat ini baru 10,41 %, yakni dengan tangkpan mencapai 95,459,00 ton ikan. Sebagian jenis ikan ini adalah ikan tuna mata besar (big eye tuna) yang harganya cukup mahal dipasaran (www.tapteng.go.id) diunduh pada tanggal 7 April 2013).

[23] Informasi diperoleh dari www.niasonline.net yang diunduh pada tanggal 7 April 2013.

[24] Daerah pesisir Tapanuli seperti Barus, Jagojago, Sitardas, Badiri, dan lain sebagainya masih mempergunakan jukung dan perahu kecil dalam penangkapan ikan (www.tapteng.go.id) di unduh tanggal 7 April 2013.

[25] Kementerian Kelautan dan Perikanan baru dibentuk pada eraPresiden Gusdur pada tahun 2004 silam, dimana sebelumnya selama puluhan tahun berada dibawa naungan kementrian Pertanian. Contoh lain lagi adalah hingga kini undang-undang kelautan masih tenggelam didasar laut, menunggu diangkat oleh DPR ke permukaan. Dan masih banyak contoh lain yang bisa kita lihat dalam lingkungan terdekat sekalipun.

[26] Seperti misalnya Lasem-Jawa Tengah yang begitu prural dan multi etnik, namun niali Pancasila begitu terpancar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Etnis Tionghoa bersembahyang di Klenteng, yang muslim bersembahyang di mesjid, dan lain sebagianya, namun dalam keseharian antar etnis yang berbeda mereka hidup harmonis. Lasem adalh satu contoh kecil, hal ini terjadi juga diwilayah lain yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2005)

[27] Pasukan Belanda dipukul mundur oleh pasukan Paderi yang berbenteng di Rao, pada tahun 1833 masehi sehingga mundur ke arah Mandailing-Tapanuli Selatan (Lubis, 2010: 11).

[28] Sutan Mangkutur merupakan Putra Mandailing-Tapanuli Selatan yang pada masa itu baru naik tahta setelah menggantikan ayahnya raja Gadombang menjadi raja Huta Godang. Pertempuran itu terjadi pada tahun 1833 di desa Singengu Tapanuli Selatan. Lihat dalam (Lubis, 2010).

[29] (Lubis, 2011: 1).

[30] Riwayat singkat karir Willem Iskandar dengan nama asli Sutan Sati, mengenyam pendidikan guru di Belanda pada tahun 1857. Kemudian ia menyelsaikan pendidikannya di tahun 1860. Pada tahun 1961 Willem Iskandar mendirikan Kweek School atau sekolah guru di Tano Bato –Tapanuli. Di tahun 1893 Willem dikirim kembali ke Belanda guna mendampingi dan memimpin 3 orang putra terbaik Indonesia untuk didiik jd calon guru, sekalgus Willem dididik menjadi direktur sekolah di Belanda (Lubis, 2011).

[31] Sebuah puisi yang dikutip dari tulisan penulis sendiri yang berjudul “Syair Badai dan Putra Ombak”

[32] Kata Bhineka Tunggal Ika diambil dari kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca dari era Majapahit (Muljana, 2006).

[33] Peradaban Barus diperkirakan dimulai sejak abad ke 1 M, hal ini berdasarkan catatan China dan para penjelajah asing, diperkuat melalui temuan arkeologis berupa keramik dari berbagai dinasti China kuno, jimat, botol kaca, yang berasal dari Timur Tengah dll (Guillot, 2002, 2008).

[34] Daerah ini kini dikenal dengan Kabupaten Batubara.

[35] Dalam satu refrensi disebutkan bahwa budaya maritim dapat dipersepsikan sebagai ja;an hidup (way of life), suatu sistem tentang pandangan/keyakinan dan nilai-nilai kebaharian yang mempengaruhi interaksi dan tata hubungan serta manusia (Mattulada, 2011: 102).

[36] Mandailing yang terletak di wialyah Tapanuli Selatan terdiri dari beberapa marga, yakni marga Lubis, Nasution, Pulungan, Matondang, Daulae, dan Batubara (Lubis, 2010).

[37]Daeng Malela, berdasarkan kenyekinan masyarakat mandailing berasal dari Bugis dan datang ke Mandailing di masa ekspansi Majapahit pada tahun 1365 M. Bukti ini diperkuat dengan catatan pada kitab Negarakertagama pupuh ke 13 tentang eksapansi Majapahit ke Mandailing. Bersamaan dengan peristiwa itu, Daeng Malela tiba di Mandailing melalui sungai Batang Gadis yang menghubungkan pantai Barat Tapanuli dengan wilayah pedalaman. Setelah berbaur dengan masyarakat lokal kemudian Daeng Malela menikahi perempuan Mandailing lalu membentuk marga Lubis (Lubis, 2010: 24-25).

[38] Sungai Batang Gadis merupakan sungai besar dengan lebar lebih 50 meter dan dapat dilayari kapal-kapal besar dan muaranya ada di Singkuang, yang dahulu pernah disinggahi Laksamana Cheng Ho pada tahun 1416 M, sehingga diberi nama pelabuhan Sing Kwang atau Tanah Baru (Parlindungan, 2007: 35).

[39] Jalur ini dipergunakan juga oleh pasukan Majapahit saat mengekspansi wilayah Mandailing-Tapanuli Selatan. Pada tahun 1365 M (Muljana, 2006).

[40] Bila dikaji lebih lanjut, kerajaan-kerajaan besar di masa lampau seperti Sriwijaya, Majapahit, Panai, Samudera Pasai, Kutai, maupun Mandailing tidak berlokasi persis dipinggir pantai, melainkan sedikit kedalam dan sungai-sungai besar  yang menghubungaknnya dengan laut.

[41] 14 relief kapal di candi Borobudur yang dibangun wangsa Syailendra abad ke-8 M, menampilkan paling tidak 5 jenis kapal, yakni kapal lintas Samudera, Kapal antar pulau, Kapal sungai dengan satu layar, kapal sungai tanpa layar, dan perahu kecil.

[42] Beberapa teori migrasi dan penyebaran manusia penutur austronesia (salah satunya adalah Geoffry Irwin) ke wilayah Nusantara ada umumnya menyebutkan bahwa migrasi terjadi dalam beberapa gelombang, yang diperkirakan datang dari Taiwan sekitar 80.000 ribu tahun yang lalu dengan perahu-perahu sederhana melintasi laut China menuju Nusantara (Tabrani, 2011., PANNAS BMKT, 2008).

[43] 98 % propinsi di Indonesia memiliki laut, dan Indonesia sejatinya merupakan wilayah kepulauan.

[44] Pidato Presiden Soekarna pada resepsi MUNAS Maritim I tanggal 23 September 1963 yang diselnggrakan di Jakarta, yang sebagian potongan pidato tersebut adalah sebagai berikut “negara yang rakyatnya cuman hidup tentram di lereng-lereng gunung dengan kenyamanan dan kekayaan hutan dan ladang, tidak akan menjadi kuat, jikalau Indonesia ingin menjadi negara yang kuat dan sejahtera, maka dia harus juga kawin dengan laut. Simbolik yang harus kita perhatikan saudara-saudara, simbolik ini harus kita masukkan didalam dada kita, didalam usaha kita nation-building, nation rebuilding, sebagai kekuatan tadi. Kita sekarang satu persatu harus yakin bahwa Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara yang kuat, sentosa, sejahtera, jikalau kita tidak jadi satu bangsa samudera, jikalau kita tidak kembali menjadi satu bangsa bahari” (Soekarno, 1963).

[45] Dua pertiga wilayah Indoensia adalah berupa lautan.

[46] (Suhardi, 2012; 54).

[47] (Putranto, 2012: 77).

[48] Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) pemenuhan air baru mencapai 55 %, sedangkan masih terdapat 80 juta masyarakat Indonesia yang belum tercukupi pemenuhan air bersihnya. Kondisi krisi air ini semakin bertambah seiring dengan ledakan populasi Indonesia yang kian tahun makin bertambah. Satu dari sepuluh rumah tangga mengalami kekurangan persediaan air bersih. Khususnya pada bulan kemarau. Berdasarkan data kajian Kementrian Pekerjaan Umum bidang Dirjen Sumber Daya Air menyebutkan, seberan sumber air pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dalam kondisi krisis, dimana 1,3 % air yang tersedia dialokasikan untuk 5,5 % penduduk Indonesia. Lalu 4,2 % air di pulau Jawa untuk memenuhi 57, 7 % penduduk Indonesia. Informasi diperoleh dari www.mediapublica.com/Indonesia-masih-mengalami-krisis-air. di unduh pada hari Sabtu pukul 10:32, April 2013.

[49] Desalinasi merupakan penyulingan air laut menjadi air bersih dengan metode menghilangkan kadar garam pada air laut. Metode ini merupakan salah satu solusi tepat guna menagatasi krisis air yang dimasa depan akan semakin memburuk dengan semakkin bertambahnya jumlah penduduk.

[50] Menurut data kementerian kelautan dan periknan, masih banyak warga pesisir yang belum mendapatkan layanan listrik, terlebih pada wilayah pulau-pulau terdepan Indonesia. Oleh sebab itu, upaya penyediaan listrik yang efisien bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil adalah dengan pemanfaatan energi yang berasal dari arus laut.(www.kkp.go.id) di unduh pada tanggal 8 April.

[51] Informasi berdasarkan laporan penelitian Puslitbang Geologi Kelautan yang di publis melalui www.mgi.esdm.go.id diunduh pada tanggal 7 April 2013

[52] Puisi merupakan karangan penulis, dan belum pernah dipublikasikan kemedia manapun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: